Home / Nasional

Minggu, 18 Januari 2026 - 17:01 WIB

Komitmen National Dong Hwa University Wujudkan Taiwan Ramah PMI

JAKARTA, MLCI  – Tim dari Center for Social Engagement (CSE) National Dong Hwa University (NDHU) Taiwan berkunjung ke Indonesia pada 7-14 Januari 2026 serta bertemu dengan para pemangku kepentingan pekerja migran Indonesia (PMI) di beberapa daerah.

Siaran pers Vanny El Rahman, Peneliti Doktoral NDHU, Minggu (18/1) menyebutkan, lawatan tim tersebut merupakan bagian dari program University Social Responsibility (USR) demi menjadikan Taiwan sebagai negara yang ramah bagi pekerja asing. Vanny sendiri menyertai Tim CSE NDHU dalam kunjungan ke beberapa daerah di Indonesia,

Disebutkan, berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan Taiwan hingga November 2025, jumlah pekerja migran di Taiwan mencapai 865,811 orang, mayoritas berasal dari Indonesia, yaitu sebanyak 332,993 jiwa.

Berdasarkan jenis pekerjaannya, 108,228 PMI bekerja di sektor produktif (manufaktur, anak buah kapal, hingga konstruksi) dan 183,820 orang bekerja di sektor kesejahteraan (perawat, pembantu rumah tangga, atau panti jompo).

Direktur CSE, June KU, menjelaskan, belajar langsung dari masyarakat Indonesia di akar rumput di berbagai daerah merupakan langkah awal untuk memperbaiki lingkungan kerja di Taiwan.

Selama di Indonesia, delegasi CSE mengunjungi Jakarta, Bandung, Indramayu, dan Cirebon untuk menemui banyak pihak, termasuk para pekerja migran yang sudah kembali, kantor penempatan, pusat pelatihan pekerja migran, Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU), NGO, hingga Dinas Ketenagakerjaan Jawa Barat.

Saat berinteraksi dengan para mantan PMI, June KU menyoroti bagaimana mereka harus meminjam uang dalam jumlah besar dan terlilit utang agar bisa pergi ke luar negeri. Mereka juga harus menghadapi kondisi kerja yang penuh tekanan serta meninggalkan keluarganya. Oleh sebab itu, dia berharap agar siklus seperti ini bisa dihentikan.

Baca Juga!  Utus Lima Anggota Satpol-PP PALI Ikuti Pembetukan PPNS Penegak Perda di Bogor

“Yang saya pikirkan adalah bagaimana Taiwan bisa memberikan pelatihan kepada para PMI yang hendak pulang. Misalnya, kalau suaminya di Indonesia punya kebun, maka nanti istrinya diajarkan bagaimana merawat kebun yang benar. Sehingga, saat dia pulang, dia sudah punya modal dan pengetahuan untuk melanjutkan hidupnya,” kata June KU.

Pernyataan itu dikemukakannya kepada para pekerja migran yang tergabung dalam komunitas Desa Peduli Buruh Migran (DESBUMI) di Indramayu Jawa Barat yang didukung oleh Migrant CARE.

Dialog dengan Serikat Buruh Migran Indonesia dan Migrant CARE serta komunitasnya fokus pada dua hal. Pertama. kesejahteraan para PMI di sektor pengasuh (caregivers).

Tidak seperti pekerja formal, skema kerja mereka tidak diatur dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan. Alhasil, gaji mereka jauh di bawah standar nasional, tidak punya hari libur reguler, dan terjadi ketimpangan yang besar dengan para majikannya.

Kedua, pendampingan terhadap keluarga PMI yang ditinggalkan. Karena Taiwan tidak mengizinkan para pekerja kerah biru membawa keluarganya, maka anak-anak mereka dibesarkan oleh suami atau nenek-kakeknya. Tak jarang sang anak tumbuh dengan kekuranngan kasih sayang.

Di Indramayu, CSE NDHU juga mengunjungi SMK Negeri 1 Bongas dan menyapa para siswa yang berasal dari keluarga PMI. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memberikan pemahaman kepada para siswa bahwa mereka juga bisa pergi ke Taiwan untuk belajar, bukan hanya bekerja.

Baca Juga!  Ketua Dewan Pers Minta Pengalihan Penahanan Direktur Pemberitaan JakTV

Adapun dialog dengan LD PBNU membahas ihwal betapa pentingnya agama bagi masyarakat Indonesia. Perkara ini menjadi penting karena masih banyak majikan hingga agensi perekrutan yang melarang para PMI untuk beribadah dan mengenakan kerudung bagi PMI wanita.

Menanggapi berbagai persoalan di atas, June KU menyatakan komitmen CSE NDHU untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak guna memperbaiki rezim ketenagakerjaan Taiwan dan meningkatkan kesejahteraan hidup para PMI.

“Apa yang bisa kami lakukan sebagai universitas yang berbasis di Hualien adalah kami akan memulainya dari komunitas yang ada di Hualien itu sendiri. Kami bisa membantu untuk membangun dialog dan kesepahaman dengan warga Taiwan di Hualien dan warga Indonesia yang ada di sana juga. Saya yakin kalau apa yang dilakukan di Hualien berhasil, pasti akan berhasil juga diterapkan di kota lainnya,” katanya.

“Hualien adalah daerah pedesaan dan banyak orang tua, sehingga tak heran kalau banyak PMI juga di sana. Hualien juga memiliki rekam jejak yang sangat inklusif dan terbuka dengan budaya dari luar. Karenanya, saya yakin memulainya dari Hualien adalah langkah yang tepat,” katanya, menambahkan.*** SMSI Pusat

Share :

Baca Juga

Nasional

Audensi SMSI dan Stafsus Menbud RI, “Presiden Prabowo Siap Hadir di HPN 2026”

Nasional

Luncurkan Golden Rules Versi 5.0, Bukit Asam Perkuat Budaya Keselamatan Kerja

Nasional

Putusan MK “Kriminalisasi Wartawan Dihentikan” Didukung Ketum DePA-RI

Nasional

Perlindungan Profesi Advokat Dalam KUHAP Baru Siap Dikawal DePA-RI

Nasional

Prof Abdul Latif, “Sikap Diam Kejati Sumbar soal Kasus Bank Nagari Berpotensi Melanggar Hukum”

Nasional

Rampungkan Draf Penyempurnaan PD/PRT, PWI Pusat Perjelas Mekanisme Pemilihan Ketum dan Pembentukan Majelis Tinggi

Nasional

Guru Besar STIK Soroti Distorsi Pilkada Langsung akibat Biaya Politik Tinggi

Nasional

Gubernur Harus Searah dengan Program Pemerintah Pusat
error: Content is protected !!