Jurnalis : Herlan Nudin
LAHAT, SUMSEL – MLCI — Dalam semangat kebangkitan dan cinta budaya bangsa, kegiatan bertajuk “Romansa Kopi dan Aksara Ulu” sukses digelar dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda Tahun 2026. Acara berlangsung pada Sabtu, 31 Oktober 2026, pukul 09.00 hingga 15.00 WIB di Filosenia Coffee, Kabupaten Lahat.
Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan Kepala Sekolah tingkat SMP, serta para guru dari jenjang SD dan SMP se-Kabupaten Lahat, yang hadir untuk mendukung upaya pelestarian budaya dan potensi lokal daerah.
Ketua Pelaksana Kegiatan, Soufie Retorika, dalam arahannya menyampaikan bahwa kopi Lahat — baik jenis Arabika maupun Robusta — sesungguhnya memiliki kualitas luar biasa, namun belum banyak dikenal masyarakat luas.
“Sejak tahun 2015, kami mulai perlahan memperkenalkan kopi Lahat ke luar daerah, termasuk ke Jawa Tengah. Hasilnya, pada Agustus–September 2017, saat berpartisipasi dalam Festival Kopi di Ciamis, media Kompas memberitakannya secara luas. Harga kopi daerah kami pun langsung meningkat pesat. Bahkan, kopi pilihan dari daerah kami langsung dibeli oleh pembeli dari luar daerah, hanya melalui cerita tentang kualitasnya,” ungkap Soufie.
Hal ini menunjukkan betapa besar dampak pengenalan dan promosi yang tepat terhadap potensi lokal. Soufie berharap generasi muda menjadi pelaku utama dalam mengangkat nama baik kopi dan budaya daerah, tidak hanya mengandalkan sektor pertambangan.
“Dinas Perkebunan, Peternakan, serta Perindustrian juga telah menyatakan dukungan dan komitmen untuk turun tangan membina para petani kopi dalam dua tahun ke depan,” ujarnya.
Saat ini, hasil panen kopi dari kebun warga berkisar antara 500 kilogram hingga 1 ton biji kopi per periode. Namun banyak hasil bumi tersebut masih dijual dalam bentuk mentah dengan harga yang relatif rendah. Soufie berharap ke depannya, seluruh petani kopi di Kabupaten Lahat dapat memperoleh nilai jual yang lebih tinggi melalui pengolahan yang lebih baik dan berkelanjutan.
“Kopi bukan sekadar bijinya. Batangnya dapat diolah menjadi bahan bakar dan arang yang bernilai ekonomis, daunnya pun telah diolah menjadi produk kopi daun yang unik. Semua bagian tanaman ini memiliki potensi yang luar biasa,” jelasnya.
Soufie juga mengajak para pendengar menelusuri jejak sejarah kopi di daerah ini. Pada masa kolonial, masyarakat setempat dilarang menikmati biji kopi hasil kebun sendiri, sehingga masyarakat memanfaatkan bagian lain dari pohon kopi. Secara historis, wilayah Lahat, Pagar Alam, hingga sekitar Kerinci dan Tanjung Sakti merupakan salah satu kawasan perkebunan kopi tertua di Indonesia, yang diperkirakan telah ada sejak ratusan tahun lalu.
Ia juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Bapak Aswari dan semua pihak yang telah menyusun dan menerbitkan karya tulis serta dokumentasi sejarah budaya dan kopi lintas daerah — mencakup Lahat, Pagar Alam, dan Muara Enim — selama empat tahun terakhir.
“Melalui pendidikan, melalui Bapak dan Ibu guru serta anak-anak murid yang hadir hari ini, saya berharap cerita tentang kopi dan kelestarian Aksara Ulu dapat terus disuarakan dan diturunkan dari generasi ke generasi. Karena di tangan kitalah masa depan budaya dan kesejahteraan daerah ini berada,” pungkas Soufie dengan harapan yang tulus.
Kegiatan “Romansa Kopi dan Aksara Ulu” ini diharapkan menjadi awal langkah nyata dalam memperkuat identitas budaya daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan potensi lokal yang berkelanjutan.

