Site icon Media Lematang

Jejak Gemilang Kopi Nusantara: Dari Akar Sejarah Hingga Kembalinya Kejayaan Kopi Lahat

Jurnalis : Herlan Nudin 

LAHAT, SUMSEL – MLCI, Sabtu (31/10/2026) — Indonesia kini berdiri tegak sebagai salah satu penghasil kopi terbesar dan paling dihormati di kancah dunia. Namun di balik keharuman secangkir kopi yang kita nikmati hari ini, tersimpan kisah perjalanan yang panjang dan penuh makna. Sejarah mencatat jejak lebih dari tiga abad, sejak bibit pertama kali menapak di bumi Nusantara, hingga kopi Indonesia menaklukkan pasar dunia.

“Berikut rangkuman sejarah yang disampaikan Soufie Retorika dalam acara di Filosenia, Kelurahan Pagar Agung, Lahat.

Kopi pertama kali tiba di Indonesia pada tahun 1696, dibawa oleh Pemerintah Belanda dari Malabar, India. Bibit berharga ini pertama kali diperkenalkan di Pulau Jawa — sebuah langkah kecil yang kelak akan mengubah lanskap perkebunan dan perekonomian nusantara selamanya.

Sebelas tahun kemudian, pada tahun 1707, Gubernur Van Hoorn memimpin upaya penyebaran bibit kopi ke berbagai wilayah Jawa, meliputi Batavia, Cirebon, kawasan Priangan, hingga pesisir utara. Langkah ini meletakkan fondasi kokoh bagi berkembangnya perkebunan kopi di berbagai pelosok negeri. “Urai Soufie Retorika

Bibit yang disebarkan tumbuh subur dan berhasil dibudidayakan dengan baik. Pada kurun waktu 1714–1715, produksi kopi meningkat pesat dan menjelma menjadi komoditas unggulan Pulau Jawa. Kopi bukan lagi sekadar tanaman asing, melainkan telah menjadi denyut nadi kehidupan ekonomi masyarakat.

Hanya sembilan tahun setelah penyebaran bibit dimulai, Indonesia telah mampu memanen kopi dalam jumlah besar. Pada tahun 1715, kopi Jawa mulai dikirim ke Eropa, dan dengan kualitas yang luar biasa, kopi Indonesia berhasil melampaui dominasi kopi Yaman yang selama berabad-abad memegang kendali pasar benua tua. Sebuah kebanggaan — hasil bumi nusantara kini diperhitungkan dunia.

Puncak kejayaan tercapai pada kurun waktu 1715–1780, ketika Indonesia memegang peran sentral dalam perdagangan kopi dunia. Konsistensi kualitas dan kelimpahan hasil menjadikan kopi Indonesia sebagai komoditas yang paling dicari di berbagai penjuru benua.

Kejayaan Kopi Lahat yang Mendunia

Kopi Lahat telah lama mengharumkan nama daerah di peta dunia. Sejak masa Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), saat Kopi Robusta, Liberika, dan Ekselsa mulai dibudidayakan di bumi Seganti Setungguan, nama “Kopi Lahat” telah tercatat dalam catatan perdagangan Eropa. Pada tahun 1920-an, iklan khusus “Kopi Lahat” terbit di surat kabar Belanda, berdiri sejajar dengan keunggulan Kopi Gayo dan Kopi Malabar — tak kalah harum namanya dari Pagaralam dan Semendo. Iklan-iklan berharga ini kini masih tersimpan dan ditemukan di Museum Leiden, Belanda.

Pada tahun 1986, sejarah mencatat bahwa Presiden Soeharto sempat merencanakan pembangunan perkebunan besar hingga pabrik pengolahan kopi di kawasan Jarai. Di tahun 1980-an, areal transmigrasi Sumatera Selatan juga kembali dihiasi tanaman Kopi Liberika dan Ekselsa. Namun sayang, seiring berjalannya waktu, pamor kopi perlahan meredup. Memasuki tahun 2010, sebagian lahan kopi di tanah gambut kita pun beralih menjadi perkebunan sawit.

Namun semangat tak pernah padam. Sejak tahun 2025, angin segar kembali berhembus. Kebangkitan kopi lahir beriringan dengan kemajuan teknologi pengolahan yang semakin canggih. Bahkan, lahan yang sempat ditanami sawit dan karet kini perlahan berubah kembali menjadi kebun kopi. Di Bumi Seganti Setungguan Lahat, kopi bukan sekadar komoditas — ia adalah warisan leluhur yang kini bangkit kembali, siap menularkan keharumannya ke seluruh penjuru dunia.

Exit mobile version