LAHAT SUMSEL, MLCI – Komplek Situs Wisata Megalith di Kecamatan Gumay Ulu, Kabupaten Lahat, berubah menjadi ruang hidup yang penuh warna. Senin pagi tepat pukul 07.30 Wib (04/05).
Di antara jejak batu purba yang menyimpan sejarah panjang, ratusan anak PAUD hadir dengan wajah cerah, didampingi guru dan orang tua, menyatu dalam sebuah gerakan yang tidak sekadar meriah, tetapi juga bermakna.
Udara pagi dipenuhi tawa dan nyanyian. Lagu-lagu anak dan daerah menggema, bersahutan dengan riuh permainan tradisional yang kembali dihidupkan. Dari berbagai penjuru Kabupaten Lahat, anak-anak datang membawa semangat, sementara para pendidik dan pegiat literasi membawa harapan.
Di titik inilah sebuah gagasan besar menemukan bentuk nyatanya. Implementasi PAUD Holistik Integratif hadir bukan sebagai konsep di atas kertas, melainkan sebagai gerakan yang menyentuh langsung kebutuhan anak. Kegiatan ini diinisiasi oleh Ir. Hj. Sri Meliyana, yang dikenal sebagai Ibunda Guru, Bunda PAUD, Bunda Literasi, Bunda Forum Anak, sekaligus Ketua TP PKK Kabupaten Lahat, dengan menggandeng Forum Anak, Forum Literasi, PGRI, Bidang PAUD, serta Pokja PKK dalam satu harmoni kerja bersama.
Gerakan itu diwujudkan melalui Germajo Sulur, sebuah akronim dari Gerakan Makan Bubur Kacang Hijau, Susu, dan Telur. Program ini berjalan seiring dengan Gerakan Membaca Nyaring, memadukan pemenuhan gizi dengan stimulasi literasi sebagai fondasi tumbuh kembang anak.
Di satu sudut, anak-anak duduk melingkar menikmati dongeng yang dibawakan dengan penuh ekspresi. Di sudut lain, panggung kecil menampilkan tari dan lagu daerah yang memperkenalkan identitas budaya sejak dini. Lomba literasi anak berlangsung meriah, sementara teater mini menyampaikan kampanye literasi dengan cara yang menyentuh dan mudah dipahami.
Pojok baca yang disiapkan Forum Literasi Kabupaten Lahat menjadi magnet tersendiri. Buku-buku berwarna-warni berpindah dari tangan ke tangan, membuka cakrawala baru bagi anak-anak yang larut dalam cerita.
Momen yang paling membekas hadir ketika Sri Meliyana sendiri tampil membacakan cerita melalui kegiatan membaca nyaring. Dengan suara yang hangat dan penuh penghayatan, ia tidak hanya membacakan cerita, tetapi juga menghadirkan pengalaman yang menumbuhkan kecintaan terhadap buku.
Dalam sambutannya, Sri Meliyana menyampaikan pesan yang mengalir tenang namun kuat.
“Gerakan makan bubur kacang hijau, susu, dan telur ini bukan sekadar program seremonial. Ini adalah ikhtiar bersama untuk memastikan anak-anak kita tumbuh sehat, kuat, dan cerdas. Saya berharap, para orang tua dapat menjadikannya sebagai kebiasaan harian di rumah. Karena dari asupan gizi yang baik, akan lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh dalam menghadapi masa depan.”
Ia juga menegaskan keberlanjutan gerakan tersebut ke wilayah lain.
“Kegiatan ini akan terus kita lanjutkan dan perluas. Insyaallah, berikutnya kita akan hadir di kawasan Kecamatan Merapi Area, agar semakin banyak anak-anak yang merasakan manfaat dari gerakan bersama ini.”
Ketua PGRI Kabupaten Lahat, Dr. Hasperi Susanto, turut memberikan pandangannya tentang pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam dunia pendidikan.
“Apa yang kita lihat hari ini menunjukkan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Ketika guru, orang tua, pemerintah, dan komunitas berjalan seiring, maka fondasi pendidikan anak akan menjadi jauh lebih kuat. Ini bukan hanya tentang belajar, tetapi tentang membentuk karakter dan kebiasaan hidup yang baik sejak dini.”
Senada dengan itu, Kepala Dinas Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Lahat, Hj. Nurlela, menekankan pentingnya menghadirkan ruang yang ramah bagi anak.
“Kegiatan seperti ini adalah wujud nyata keberpihakan kita kepada anak-anak. Mereka membutuhkan ruang yang aman, menyenangkan, sekaligus mendidik. Di sinilah perlindungan anak hadir bukan hanya dalam regulasi, tetapi dalam tindakan yang langsung dirasakan manfaatnya.”
Kehadiran berbagai unsur pemerintahan Kabupaten Lahat seperti Bappeda, Dinas Kesehatan, Dinas Dukcapil, Dinas Dalduk KB, para kepala desa, serta Camat Gumay Ulu memperkuat bahwa gerakan ini adalah hasil dari kebersamaan, bukan kerja satu pihak semata.
Menjelang akhir kegiatan, pembagian Germajo Sulur dan door prize menjadi penutup yang menghangatkan suasana. Anak-anak pulang dengan wajah ceria, membawa lebih dari sekadar bingkisan. Mereka membawa pengalaman, kenangan, serta benih-benih kebiasaan baik.
Di tengah keheningan batu-batu megalit yang telah berdiri selama ribuan tahun, hari itu Lahat tidak hanya merawat sejarah. Ia sedang menumbuhkan masa depan, melalui langkah-langkah kecil yang dilakukan bersama, penuh kesadaran dan harapan.***AAN









