Jurnalis : Herlan Nudin
LAHAT, SUMSEL – MLCI — SD Negeri 13 Lahat menggelar upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila pada Kamis, 1 Oktober 2026. Kegiatan berlangsung khidmat di lingkungan sekolah, diikuti seluruh jajaran guru, tenaga kependidikan, serta para siswa-siswi.
Bertindak selaku pembina upacara, Kepala Sekolah SD Negeri 13 Lahat, Ahmad Hasbi Qodri, S.Pd.SD., M.Pd., menyampaikan amanat yang mengajak seluruh warga sekolah untuk merenungkan kembali makna luhur peringatan ini.
Dalam sambutannya, Ahmad Hasbi Qodri mengajak seluruh siswa untuk tidak sekadar menghafal nama-nama Pahlawan Revolusi, melainkan mengambil teladan nyata dari pengabdian mereka. Para pahlawan yang gugur dalam peristiwa 30 September 1965 — Jenderal Ahmad Yani, Letnan Jenderal Suprapto, Letnan Jenderal S. Parman, Letnan Jenderal M.T. Haryono, Mayor Jenderal D.I. Panjaitan, Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo, dan Kapten Pierre Tendean — telah mewariskan nilai keberanian, kesetiaan, disiplin, serta kecintaan yang tak tergoyahkan kepada tanah air.
“Apakah cukup hanya berdiri saat upacara? Apakah cukup hanya menghafal nama pahlawan? TIDAK! Cara terbaik menghormati mereka adalah melanjutkan perjuangan lewat perbuatan nyata,” tegasnya.
Kepala Sekolah menegaskan bahwa perjuangan masa kini bagi para siswa adalah belajar dengan sungguh-sungguh serta berani melawan kelemahan diri sendiri: kemalasan, ketidakjujuran, ketidakdisiplinan, dan sikap saling tidak menghargai.
“Jangan kalah oleh rasa malas, jangan kalah oleh pergaulan yang tidak baik, jangan mudah menyerah saat menghadapi kesulitan. Kalian adalah generasi penerus bangsa — masa depan Indonesia ada di tangan kalian,” ujarnya.
Kepada para pendidik, Ahmad Hasbi Qodri mengingatkan bahwa pendidikan bukan sekadar soal nilai di atas kertas. Anak yang pintar tanpa kejujuran, berprestasi tanpa sopan santun, atau berilmu tanpa akhlak belum dapat dikatakan berhasil. Bersama-sama, sekolah dan orang tua harus membentuk generasi yang mandiri, religius, disiplin, bertanggung jawab, dan penuh semangat kebangsaan.
Poin inti amanat ditekankan agar Pancasila tidak hanya dibaca saat upacara, tetapi diamalkan dalam keseharian: beribadah dengan tulus, saling menghormati, menjaga persatuan, bermusyawarah, dan berbagi kebaikan.
“Bukan hanya dihafal, tetapi diamalkan. Bukan hanya diucapkan, tetapi dilakukan,” pesannya.
Beliau mengajak para siswa memulai pengabdian kepada bangsa dari hal-hal sederhana di sekolah: menjaga kebersihan, menghormati guru, menyayangi teman, menolak perundungan, datang tepat waktu, serta belajar dengan rajin. Kelak, di antara para siswa ini akan lahir calon pemimpin — guru, dokter, ilmuwan, hingga pemimpin bangsa — yang akan membawa Indonesia semakin maju.
“Kalian bukan sekadar siswa. Kalian adalah pemimpin masa depan. Mulailah bersiap dari hari ini: Belajar! Berdoa! Berdisiplin! Berprestasi! Dan berakhlak mulia!” pungkas Ahmad Hasbi Qodri dengan penuh semangat.

