LAHAT SUMSEL, MLCI — Kalau selama ini panggung karaoke dianggap cuma tempat orang rebutan mikrofon, warga Perumahan Orydiva, Kelurahan Lahat Tengah, Kabupaten Lahat, sepertinya punya pendapat lain.
Malam ini, Sabtu 15 Agustus 2026, sebanyak 17 pedangdut warga Orydiva Kelurahan Lahat Tengah, Kecamatan Lahat bakal turun gunung dan mengguncang Panggung Utama Lomba Karaoke Dangdut Perumahan Orydiva dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Pesertanya bukan kaleng-kaleng. Ada laki-laki, ada perempuan. Semuanya datang membawa satu senjata yang sama: suara, keberanian, dan mental tampil di depan tetangga sendiri.
Soalnya, tampil di depan orang asing mungkin gampang. Yang susah itu tampil di depan tetangga yang besok paginya masih harus disapa ketika ketemu di depan rumah.
Ketua Pelaksana Lomba Karaoke Dangdut Perumahan Orydiva, Diki Susanto, mengatakan ramainya peserta tidak muncul begitu saja. Menurutnya, antusiasme warga merupakan buah dari kekompakan dan semangat saling mendukung antarwarga Orydiva.
“Antusiasme ini berkat kerja sama dan kekompakan warga Orydiva dalam saling support. Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang sudah membantu, baik secara moril maupun materiil, dan tentunya bantuan tersebut tidak mengikat,” ujar Diki.
Diki menambahkan, lomba karaoke kali ini diikuti 17 peserta, baik laki-laki maupun perempuan. Selain hadiah utama bagi para pemenang, panitia juga menyiapkan berbagai hadiah untuk sejumlah kategori.
Jadi, kalau malam ini ada peserta yang gagal membawa pulang gelar juara utama, jangan buru-buru pulang sambil menatap lantai. Bisa jadi rezekinya justru datang lewat kategori lain.
“Peserta ada 17 orang, laki-laki dan perempuan. Kami juga menyiapkan banyak hadiah untuk berbagai kategori, selain hadiah utama bagi para pemenang,” katanya.
Namun bagi Diki, kemeriahan malam ini sebenarnya bukan perkara siapa yang paling tinggi nadanya, siapa yang paling bagus goyangannya, atau siapa yang paling lama bertahan memegang mikrofon.
Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan bentuk kebersamaan warga dalam merayakan kemerdekaan.
Ia pun menyampaikan apresiasi kepada warga Perumahan Orydiva yang telah menginisiasi berbagai kegiatan 17-an tahun ini dengan mengedepankan musyawarah dan mufakat.
Menurut Diki, semangat seperti inilah yang membuat kegiatan warga terasa lebih hidup. Sebab kemerdekaan rupanya bukan cuma perkara memasang bendera merah putih di depan rumah, tetapi juga bagaimana warga bisa duduk bersama, bermusyawarah, saling membantu, lalu tertawa bersama ketika acara berlangsung.
“Terima kasih juga kepada seluruh warga Perumahan Orydiva yang sudah menginisiasi kegiatan 17-an tahun ini dengan mengedepankan musyawarah dan mufakat bersama,” ujarnya.
Dan ternyata, Orydiva tidak cuma punya agenda karaoke. Selain perang melawan fals di panggung utama malam ini, berbagai lomba juga digelar untuk bapak-bapak dan anak-anak.
Artinya, hampir semua penghuni komplek punya kesempatan untuk ikut merasakan bagaimana rasanya menjadi juara, atau setidaknya menjadi bahan obrolan tetangga sampai beberapa hari ke depan.
Yang jelas, malam ini Orydiva tidak sedang mencari siapa yang paling terkenal. Orydiva sedang mencari siapa yang paling berani naik panggung.
Sebab dalam sebuah perayaan kemerdekaan, kadang yang paling layak diapresiasi bukan mereka yang suaranya paling merdu, tetapi mereka yang berani berdiri di depan banyak orang, mengambil mikrofon, lalu berkata dalam hati: “Bismillah, yang penting tetangga jangan bubar dulu.”
Malam ini, 17 pedangdut Orydiva akan membuktikan bahwa kemerdekaan juga bisa dirayakan dengan musik, tawa, tepuk tangan, dan suara warga yang saling menyemangati.
Dan kalau panggung utama nanti benar-benar berguncang, jangan buru-buru menyalahkan sound system. Bisa jadi itu memang Orydiva yang sedang berpesta.***AAN

