LAHAT, SUMSEL – MLCI – Kepala Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Lahat, Deni Ariani, menyampaikan pesan penuh makna dalam kegiatan bimbingan karakter yang digelar di lingkungan Asrama MAN 1 Lahat, Kamis pagi. Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak seluruh santri untuk membangun pribadi yang tangguh, mandiri, dan disiplin, serta menjauhi pola hidup yang terbiasa dimanja tanpa mengenal perjuangan.
Kegiatan ini menjadi wadah penanaman nilai kehidupan yang nyata, di mana Deni Ariani membagikan pengalaman masa kecilnya sendiri sebagai teladan. Ia mengisahkan meskipun tumbuh di keluarga yang berkecukupan, ayahnya merupakan pengusaha sekaligus pejabat yang memiliki banyak armada kendaraan, ia tidak pernah dimanja dengan kemudahan yang serba ada. Justru sebaliknya, orang tuanya menerapkan didikan yang melatih kemandirian dan rasa tanggung jawab sedini mungkin.
“Ketika saya masih kecil dan meminta uang jajan, ayah tidak langsung memberikannya. Beliau menyuruh saya mencabut ubi kayu, lalu menjualnya sendiri untuk mendapatkan uang jajan itu. Saat libur sekolah pun, saya tidak diajak berwisata, melainkan turun ke kebun bekerja bersama ayah, ibu, dan kakek nenek,” ungkap Deni Ariani dengan nada tulus.
Ia juga menceritakan saat musim panen kopi tiba, ia turut memetik hasil panen dan menjualnya sendiri untuk mendapatkan uang tambahan. Pengalaman itulah yang kemudian membentuk mentalnya menjadi kuat, serta menanamkan kesadaran bahwa setiap rezeki dan keberhasilan harus diperjuangkan dengan kerja keras.
Dalam amanatnya, ia mengingatkan para santri agar tidak terbiasa dengan apa yang disebutnya sebagai “pola asuh ayam potong”—yaitu pola asuh yang hanya memberi segala kebutuhan secara instan tanpa mengajarkan anak untuk berjuang, berusaha, dan menghargai proses.
“Anak yang dididik seperti ayam potong hanya akan terbiasa menerima tanpa tahu bagaimana cara memperolehnya. Kelak mereka akan rapuh saat menghadapi tantangan dunia nyata,” tegasnya.
Melalui sesi berbagi ini, Deni Ariani berharap seluruh santri MAN 1 Lahat dapat tumbuh menjadi generasi yang berkarakter kuat, disiplin, pekerja keras, dan mandiri. Ia menegaskan bahwa kesuksesan seseorang tidak semata ditentukan oleh latar belakang keluarga atau harta yang dimiliki, melainkan dibangun dari didikan karakter, kebiasaan berusaha, dan kemauan untuk terus belajar sejak dini.
Kegiatan bimbingan ini berlangsung khidmat dan penuh kehangatan, disambut antusiasme tinggi dari para santri yang tampak menyimak setiap pesan yang disampaikan dengan saksama.









