LAHAT SUMSEL, MLCI – Tanggal 25 Januari biasanya hanya menjadi penanda pergantian hari bagi sebagian orang. Namun, di sebuah sudut RT 09 Kelurahan Pagar Agung, hari ini terasa berbeda. Suasana hangat dan penuh khidmat menyelimuti kediaman pasangan Muchtarim dan Lega Herawati.
Bukan karena dekorasi mewah yang mencolok, melainkan karena kehadiran tamu-tamu istimewa yang membuat perayaan ulang tahun ke-3 putra bungsu mereka, Azard Al-Hafiz, menjadi begitu bermakna.
Alih-alih menggelar pesta pora di taman bermain modern, Muchtarim dan Lega memilih jalan yang “tidak biasa”. Mereka membuka pintu rumah lebar-lebar untuk mengundang anak-anak yatim dan piatu di lingkungan sekitar. Di usia yang baru menginjak empat tahun, Azard, anak ke-3 dari empat bersaudara, diajarkan sebuah bahasa universal yang melampaui kata-kata: bahasa berbagi.
Acara yang berlangsung pada Minggu siang ini tidak hanya dihadiri oleh rekan sebaya Azard, tetapi juga disaksikan oleh tokoh-tokoh penting di lingkungan tersebut. Mulai dari pemangku pemerintahan RT setempat, tokoh masyarakat, hingga alim ulama Kelurahan Pagar Agung turut hadir memberikan doa restu.
Bagi Muchtarim, momentum bertambahnya usia sang putra adalah kesempatan emas untuk menyemai benih karakter. Menurutnya, merayakan ulang tahun bersama mereka yang membutuhkan adalah cara terbaik untuk memperkenalkan realita sosial sekaligus menanamkan empati sejak dini.
“Kami ingin Azard tumbuh dengan pemahaman bahwa kebahagiaan sejati bukan hanya saat kita menerima, tapi saat kita mampu memberi. Ini adalah pendidikan karakter yang nyata. Kami ingin dia terbiasa berbagi kepada sesama, terutama kepada mereka yang memang layak mendapatkan bantuan,” ujar Muchtarim di sela-sela acara.
Pakar psikologi sering menyebut usia di bawah lima tahun sebagai “masa emas” untuk pembentukan kepribadian. Apa yang dilihat dan dirasakan anak pada usia ini akan membekas kuat dalam ingatannya. Dengan melibatkan Azard langsung dalam proses pemberian santunan dan interaksi dengan anak-anak yatim, Muchtarim dan Lega sedang membangun fondasi rasa syukur dalam diri putra mereka.
Lega Herawati menambahkan bahwa melihat keceriaan di wajah anak-anak yang hadir memberikan kepuasan batin yang tidak bisa dibeli dengan materi. “Acara ini berlangsung khidmat. Doa-doa yang dipanjatkan oleh alim ulama dan ketulusan anak-anak yatim memberikan energi positif bagi keluarga kami,” ungkapnya.
Meski kental dengan nuansa religius dan pesan moral, keceriaan khas anak-anak tetap mewarnai suasana. Tawa renyah pecah saat sesi ramah tamah dan makan bersama. Azard tampak antusias berada di tengah-tengah teman-teman barunya, seolah mengerti bahwa hari ini ia sedang merayakan cinta yang lebih luas dari sekadar kue ulang tahun.
Kehadiran Ketua RT dan tokoh masyarakat juga memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif keluarga Muchtarim. Langkah ini dinilai sebagai teladan positif bagi warga lain dalam membangun kepedulian sosial di lingkungan terkecil.
Hari ini, Azard Al-Hafiz mungkin belum sepenuhnya memahami esensi filosofis dari kedermawanan. Namun, satu hal yang pasti: di hari ulang tahunnya yang ke-3, ia telah mendapatkan kado terbaik berupa pelajaran hidup tentang kasih sayang yang akan ia bawa hingga dewasa nanti. Selamat ulang tahun, Azard! Semoga tumbuh menjadi insan yang bermanfaat bagi sesama.*** Aan









