Jurnalis : Herlan Nudin
LAHAT, SUMSEL – MLCI — Batalnya pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P) Kabupaten Lahat Tahun 2026 menjadi kabar kurang menggembirakan bagi dunia pendidikan. Sejumlah sekolah yang menanti perbaikan bangunan harus menelan pil pahit dan menunda harapan perbaikan tahun ini, Rabu (21/10/2026).
Jurnalis media ini, meninjau langsung beberapa sekolah yang kondisinya memprihatinkan.

Di SD Negeri 4 Lahat, Desa Suka Negara, terlihat 3 ruang kelas sudah bertahun-tahun tak layak pakai dengan plafon yang bergelantungan. Meski pihak sekolah telah berupaya memperbaiki atap, kerangka kayu di dalamnya sudah banyak lapuk dan bangunan masih berupa bangunan lama sekitar 80 persen. Usulan perbaikan telah masuk ke Dinas pendidikan.

Di SD Negeri 5 Lahat, Kelurahan Lahat Tengah, terlihat pihak sekolah berupaya mandiri memasang beberapa seng baru. Namun kusen jendela dan plafon masih rusak dengan kerangka kayu yang rapuh. Meiki, salah satu guru di sekolah itu, menceritakan kondisi yang memilukan.
“Inilah keadaan sekolah kami. Bangunan masih lama, atap hanya diikat kawat jaring. Saat angin kencang, seng mudah lepas karena kayunya sudah lapuk. Saat memasang seng baru pun, kami harus mengganjal paku agar bisa menempel.”
Meiki menambahkan bahwa proposal perbaikan telah diajukan setiap tahun ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Tahun ini sebanyak 11 item kebutuhan sarana dan prasarana telah dimasukan.
“Semoga ada yang terealisasi segera, agar kami — guru dan siswa — bisa belajar dan mengajar dengan rasa aman, nyaman, dan tenang,” harapnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lahat, H. Niel Aldrin, S.E., M.AP, memberikan penjelasan di ruang kerjanya. “Benar, APBD-P Kabupaten Lahat tidak ada tahun 2026. Hal itu telah disampaikan Bapak Bupati dalam Rapat Paripurna kemarin. Namun usulan sarpras sekolah yang sudah masuk tahun ini, Insyaallah akan diprioritaskan dalam APBD Induk Tahun 2027 mendatang.
Kepala Dinas juga menegaskan bahwa sekolah-sekolah dengan kerusakan paling berat akan menjadi fokus utama.
“SD Negeri 30 Lahat misalnya, sudah saya kunjungi langsung. Ruang kelas yang sudah bertahun-tahun tidak terpakai tentu menjadi prioritas utama, begitu juga sekolah-sekolah lainnya,” tegasnya.
Pemerintah Kabupaten berkomitmen agar harapan pemulihan sarana pendidikan di Lahat tidak padam, sekalipun harus menunggu satu tahun lagi demi penataaan anggaran yang lebih matang.









